Tata Bahasa Jawa Kuno


Fonologi Bahasa Jawa Kuno
Secara etimologis fonologi berasal dari dua kata Latin yaitu phone yang berarti “bunyi” dan logos yang berarti “ilmu”.  Jadi fonologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu. Fonologi juga merupakan bagian terkecil dari tata bahasa.

Tetapi ada pula yang mengatakan fonologi di luar tata bahasa.  Jika dikaji lebih dalam maka akan dapat mengingat sekilas pengertian bahasa menurut Jendra (1986 : 2) “suatu sistem simbol bunyi bebas yang diucapkan dalam atau melalui mulut manusia, yang disetujui dan dipelajari bersama oleh masyarakat pendukungnya, untuk dipergunakan sebagai alat kerjasama atau berhubungan”.
Dari pengertian tersebut, maka bahasa terdiri atas dua unsur yakni : bunyi dan makna. Kedua unsur ini tidak bisa saling meniadakan. Bunyi tanpa makna adalah suatu kegaduhan, misalnya bunyi desiran angin, ember jatuh dan lain-lain. Sebaliknya makna yang tidak diawali oleh bunyi, bukan pula bernama bahasa.
Fonologi bahasa Kawi yang dikenal sekarang hanyalah dari bahan-bahan tertulis. Oleh karena itu, fonologi bahasa Kawi secara positif tidak diketahui bagaimana ucapan kata-katanya atau ucapan kalimat bahasa itu. Sementara untuk ucapannya biasanya diperbandingkan dengan bahasa Sanskerta dan dialek-dialek bahasa Jawa yang masih ada sekarang.

Sistem Ejaan Bahasa Jawa Kuno
Segala macam lambang untuk menuliskan bahasa disebut sebagai huruf atau aksara. Secara otomatis, huruf atau aksara itu merupakan lambang atau gambaran dari bunyi. Sedangkan rentetan dari beberapa huruf disebut sebagai abjad. 
Sebagaimana telah dijelaskan di muka bahwa bahasa Kawi sangat dipengaruhi oleh bahasa Sanskerta. Dalam hal ejaan fonemnya bahasa Kawi ternyata juga banyak mendapat pengaruh bahasa Sanskerta. Sebagai contoh vokal panjang/dīrga/diphthong yang dilambangkan dengan huruf ā, ī, ū; kemudian bunyi beraspirat (bh, dh, kh, gh, ph, ch, th, dsb) serta bunyi desis (ṡ, ṣ, s). 
Sementara itu untuk Abjad Kawi banyak ditulis dengan akṣara Jawa ataupun aksara Bali. Dalam sebagian besar naskah di Bali abjad Kawi banyak ditulis dalam aksara Bali, kecuali lontar-lontar kuno asli peninggalan Hindu Jawa yang masih bisa diselamatkan. Bentuk antara aksara Jawa dan Bali sendiri tidak jauh berbeda. Aksara atau Abjad ini juga sebagai lambang dari ejaan fonem bahasa Kawi.
Sebagaimana  bahasa  Sanskerta, ejaan fonem bahasa Kawi  dibagi atas dua golongan besar yakni  ejaan fonem vokal (akṣara swāra) dan ejaan fonem konsonan (akṣara wyañjana). 

Berikut ini ikhtisar penggolongannya serta transkripsinya dalam huruf latin.

Ejaan Fonem Vokal (Akṣara Swāra)
Fonem vokal dalam  bahasa  Kawi dibedakan menjadi dua yaitu : vokal pendek (Swāra hṛṣva) dan vokal panjang (Swāra dīrgha).

Akṣara Bali
Akṣara Latin
Contoh
Arti
Hṛṣva
Swāra 
Hṛṣva
Swāra 
Hṛṣva
baca
Swāra 
baca
Hṛṣva
Swāra 
Á
õ
a
ā
Ácl,
acala
õkor,
ākāra
gunung
bentuk
÷
÷o
i
ī
÷ki,
iki
 aIr,
dhīra
ini
berani
ú
úo
u
ū
új(,
ujar
]Ur,
ṡūra
kata
pemberani
Ï
Ïo
ṛ/ rê
ṝ/ rӧ
Ïsi,
ṛṣi
Ïop/,
rӧp
Resi
kantuk
2
ḷ/ lê
ḹ/lӧ
2m;,
lĕmah
mn)2±,
manĕlö
tanah
menelan
6
ü
e
ai
6k,
eka
ü(l\á,
Airlangga
satu
Airlangga
O
Oo
o
au
Oln/,
olan
Oo[a,
auṣadha
ulat
obat
¨¨¨)¨
¨¨)¨¨o
ê
ӧ
h))nÓs/,
êntas
Ï\)on,
rêngӧn
seberang
dengarkan

 Ejaan Fonem Konsonan (Vyañjana)
Konsonan dalam abjad Kawi berjumlah 33 buah. Konon 33 huruf tersebut merupakan aksara suci dari 33 Dewa yang disebutkan dalam Veda. Oleh karenanya para pendeta baik di India maupun di Indonesia menggunakan 33 konsonan tersebut sebagai Vijaksara yang diucapkan pada waktu mereka melaksanakan puja. Dalam Ajaran Tantra, Vijaksara itu dituliskan dalam bentuk Yantra atau aksara Suci yang ditulis dalam Aksara Swalalita atau Modre (Jawa/Bali).
Ejaan Fonem Konsonan bahasa Kawi dapat dibedakan menjadi lima warga. Berikut beberapa penjelasan mengenai kelompok konsonan tersebut.
a.  Guttural, disebut juga “Kāṇṭhya”. Bunyi ini dihasilkan dengan cara mendekatkan lidah  kepada guttur (kaṇṭha), yakni bagian langit-langit kerongkongan.
b.  Palatal, disebut juga “talavya”. Bunyi ini dihasilkan dengan cara mendekatkan lidah pada palatun (talu) atau tekak (langit-langit lembut).
c.  Lingual atau cerebral, yang disebut juga “mūrdhanya”. Kelompok ini dibunyikan atau dibaca dengan cara menggetarkan lidah (lingua) di dekat langit-langit keras (cerebrum atau mūrdha) ataupun dengan merapatkan lidah pada langit-langit keras.
d.  Dental, yang disebut juga “danthya”. Kelompok ini dibaca dengan cara mendekatkan gigi (denta atau dantha) atas dan gigi bawah sebelum membunyikannya.
e.  Labial, yang disebut juga “oṣṭhya”. Bunyi pada kelompok ini dihasilkan dengan cara   mendekatkan kedua bibir (labium atau oṣṭha) atas dan bawah. 
Untuk aksara desah ”ha” terdapat pengecualian, karena aksara ini tidak masuk dalam lima warga tersebut di atas. Aksara ini berdiri sendiri sebagai bunyi desah. 

Berikut pengelompokkan Vyañjana dalam bahasa Kawi.
No.
Warga
Vyañjana
Ardha
Uṣma/
Wisarga
Tajam
Lembut
Nasal
Swāra
Desis
1
Kāṇṭhya
ka
kha
ga
gha
nga


(Guturals)
K
¼
g
f
\



2
Talavya
Ca
cha
ja
jha
ña
ya
ṡa

(Palatals)
C
¨¨¨È
j
ü
z
y
]

3
Mūrdhanya
ṭa
ṭha
ḍa
ḍha
ṇa
ra
a

(Linguals)
`
~
a
a
x
r
[


4
Daṇṭya
Ta
tha
da
dha
na
la
sa

(Dentals)
T
q
d
a
n
l
s

5
Oṣṭhya
Pa
pha
ba
bha
ma
wa

ha
(Labials)
P
|
b
v
m
w

h

Contoh penggunaan dari masing-masing konsonan sebagai berikut.
1.      Akṣara Kāṇṭhya (huruf kerongkongan)
Akṣara
Akṣara
Contoh
Arti
Bali
 Latin
k
ka
kmi,
kami
kami
¼
kha
su  ¼,
sukha
senang
g
ga
gm,
gama
jalan
f
gha
fn,
ghana
awan
\
ṅa/ nga
\rn/,
ngaran
nama

2. Akṣara Tālavya (huruf langit-langit).
Akṣara
Akṣara
Contoh
Arti
Bali
 Latin
c
ca
ctu(,
catur
empat
¨¨¨È
cha
¨¨¨ÈnÑÑ,
chanda
chanda
j
ja
jgt/,
jagat
dunia
ü
jha
ü[,
jhaṣa
ikan
z
ña
zmut/,
ñamut
Kabur

3.   Akṣara Mūrdhanya ( huruf lidah)

Akṣara
Akṣara
Contoh
Arti
Bali
 Latin
`
ṭa
`ik,
ṭika
tulisan
~
ṭha
sda

sda
a
ḍa
at%,
ḍateng
datang
a
ḍha
sda

sda
x
ṇa
trux,
taruṇa
kabur


4.   Akṣara Daṇṭya (huruf gigi)

Akṣara
Akṣara
Contoh
Arti
Bali
 Latin
t
ta
t\n/,
tangan
tangan
q
tha
qoni,
thāni
pertanian
d
da
ddi,
dadi
jadi
a
dha
yua,
yudha
perang
n
na
nrpti
narapati
raja

5.   Akṣara Oṣṭhya (huruf bibir)

Akṣara
Akṣara
Contoh
Arti
Bali
 Latin
p
pa
pwn,
pawana
angin
|
pha
|l,
phala
buah
b
ba
bl,
bala
kekuatan
v
bha
vy,
bhaya
bahaya
m
ma
mt,
mata
mata


6.   Akṣara Ardha Swāra (huruf setengah suara)
Akṣara
Akṣara
Contoh
Arti
Bali
 Latin
y
ya
y ],
yaṡa
jasa
r
ra
rog,
rāga
nafsu
l
la
lki,
laki
laki-laki
w
wa
wn,
wana
hutan

7.  Akṣara Uṣma (bunyi desis)

Akṣara
Akṣara
Contoh
Arti
Bali
 Latin
]
ṡa
]t,
ṡata
seratus
[
ṣa
[,/.
ṣad
enam
s
sa
sh,
saha
dengan
8. Akṣara Wisarga
Akṣara
Akṣara
Contoh
Arti
Bali
 Latin
h
ha
hn,
hana
ada

Pasangan/ sandangan Akṣara Vyañjana

Akṣara
Transliterasi
Pasangannya
Contoh Pemakaian
Arti
Bali
Ak. Bali
Kawi Latin
k
ka
¨¨¨Ð¨
m\Ðn,
mangkana
begitu
¼
kha
¨¨¨Ð¨
su¼,
sukha
suka
g
ga
¨¨á¨¨
lii\á,
lingga
tanda
f
gha
¨¨¨â¨
s\â,
sanggha
massa
\
ṅa
¨¨¨å¨
-
-
-
c
ca
¨¨¨Ç¨
pzÇ,
pañca
lima
ÈÞB
cha
¨¨¨È¨
escÈ,
seccha
enak
j
ja
¨¨¨é¨
digéy,
digjaya
sakti, gagah
ü
jha
¨¨¨¨
-
-
-
z
ña
¨¨¨ñ¨
jñn,
jñana
pikiran
`
ṭa
¨¨¨Õ¨
kxÕ,
kaṇṭa
leher
~
ṭha
¨¨¨Õ¨
-
-
-
a
ḍa
¨¨¨Ò¨
dnÒ,
dandha
tongkat
a
ḍha
¨¨¨Ò¨
-
-
-
x
ṇa
¨¨¨Æ¨
j^x,
jirṇṇa
cacat
t
ta
¨¨¨Ç¨
nisÓnê,
nistanya
walaupun
q
tha
¨¨¨Ô¨
ÁasÔ,
adhastha
di bawah
d
da
¨¨¨Ñ¨
ÁnÑg,
andaga
tidak patuh
a
dha
¨¨¨Ò¨
yudÒ,
yuddha
perang
n
na
¨¨¨Â¨
jgtÂoq,
jagatnātha
Dewa Ṡiwa
p
pa
¨¨æ¨¨
pu[æ,
puṣpa
bunga
|
pha
¨¨è¨¨
ni[èl,
niṣphala
tak berbuah
b
ba
¨¨¨ã¨
tmã,
tamba
obat
v
bha
¨¨¨ä¨
Álmän,
alambhana
kesanggupan
m
ma
¨¨¨ß¨
õtß,
ātma
atma
y
ya
¨¨¨¨ê
ü(]nê,
airṡanya
timur
r
ra
¨¨¨É¨
puutÉ,
putra
anak
l
la
¨¨¨Þ¨
wÞs/,
wlas
belas kasihan
w
wa
¨¨¨¨Ù
hyÙ,
hywa
jangan
]
ṡa
¨¨¨Ö¨
Á\Ö,
angṡa
titisan
[
ṣa
¨¨×¨¨
Ák×r,
akṣara
huruf
s
sa
¨¨u樨
wtuæ,
watsa
anak lembu
h
ha
¨¨¨À¨
si\À,
singha
singa

Pasangan/ sandangan Akṣara Swāra
¨¨¨¨o
= tedong untuk suara ā
e¨¨¨¨
= taleng untuk suara e
E¨¨¨¨
= taleng daitya untuk suara ai
¨¨¨¨i
= ulu untuk suara i
¨¨¨¨I
= ulu   sari untuk suara ī
¨¨¨¨u
= suku untuk suara u
¨¨¨U¨
= suku ilut untuk suara ū
e¨¨¨¨o
= taleng + tedong untuk suara o
E¨¨¨¨o
= taleng daitya + tedong untuk suara au
¨¨¨)¨
= pêpêt untuk suara ê
¨¨)¨¨o
= pêpêt  tedong untuk suara ö
¨¨¨¨Ê
=guwung repa untuk suara ṛ/rê 
¨¨¨¨;
= bisah untuk huruf h mati pada akhir suku kata/kata
¨¨¨¨/
= adeg-adeg untuk mematikan huruf pada akhir suku  kata/kata
¨¨¨*¨
= cêcêk untuk menulis têngênan ng
¨¨¨(¨
= surang untuk menulis têngênan r

 Angka
Masing-masing angka dalam abjad Kawi berbentuk sebagai berikut:
Angka dalam Aksara  Bali dan Latin
Bali
1
2
3
4
5
6
7
8
9
0
Latin
1
2
3
4
5
6
7
8
9
0

Cara penulisannya yakni dengan mensejajarkannya secara berturut-turut kearah kanan. Cara ini berasal dari India kemudian diperkenalkan oleh Bangsa Arab ke Eropa. Oleh karenanya Orang Eropa menyebutnya sebagai sistem Arab. Adapun contoh penulisannya adalah sebagai berikut:
Bali   
1981
2006
20283

Latin
1981
2006
20.283
dan seterusnya.


Sandhi, Hukum Sandhi, Aturan Bunyi
          Sandhi dalam bahasa Kawi sudah merupakan istilah umum dikalangan pecinta bahasa Kawi. Kata sandhi dalam bahasa Sanskerta berarti “sambungan” atau “hubungan”. Dalam tata bahasa Kawi, yang sangat terpengaruh oleh bahasa Sanskerta, sandhi berarti gabungan atau hubungan dua bunyi sehingga menyebabkan berubahnya bunyi itu dari bentuk asalnya.
Sandhi dalam bahasa Kawi dibagi menjadi dua bagian, yaitu: 
Sandhi dalam adalah suatu persandian yang terjadi dalam satu atau sepatah kata akibat proses afiksasi (penambahan imbuhan).
           Contoh :
           ma     +          ujar      =          mojar
           ma     +          inget    =          menget
           rêngö +          ên        =          rêngön
           pa      +          ajar      =          pājar
          
Sandhi luar adalah suatu persandian yang terjadi dalam dua patah kata atau lebih, dimana kata yang pertama diakhiri oleh vokal, sedangkan kata berikutnya diawali oleh vocal.
           Contoh:
                          sira    +          aburu   =          sirāburu
                          nguni +          ikang   =          ngunīkang
                          nara   +          indra    =          narendra
                          raghu +          uttama =          raghūttama

Hukum Sandhi
            Hukum Sandhi merupakan aturan-aturan sandhi yang sudah ditetapkan atau dibakukan. Oleh karenanya sastrawan Jawa Kuno atau seorang Kawi Sastra tidak bisa seenaknya dalam menggunakan tata bahasa yang ada kaitannya dengan Sandhi tersebut. Aturan-aturan dalam hukum sandhi tersebut adalah : 

*  Dua vokal yang sama digabung menjadi satu, tetapi berbunyi panjang (dirgha/diphtong) 
Contoh:              a + a = a      i + i = ī      u + u = ū
                                 a + ā = ā      i + ī = ī      u + ū = ū
                                 ā + ā = ā      ī + ī = ī      ū + ū = ū

*  Bunyi ȇ digabung dengan bunyi hidup yang lain, bunyi ȇ tersebut hilang, misalnya :
a + ȇ   =  a          à   wawa        +  ȇn       =  wawan 
i + ȇ    =  i           à   wȇli          +  ȇn       =  wȇlin
u + ȇ   =          à   tuhu          +  ȇn       =  tuhun
ö + ȇ   =  ö          à   rȇngö        +  ȇn       =  rȇngön

*  Bunyi a jika diikuti oleh bunyi lain, namun bukan ȇ menjadi :
a + u   =  o          à   ma            +    ulah      =   molah
a + i    =  e          à   bhaṭara     +     indra    =   bhaṭarendra
                                        wruha       +     ing       =   wruheng

*  Bunyi i, u, ö dan o jika diikuti lain daripada bunyi ȇ menjadi :
i  + a   = ya         à   ananghi     + a          =    ananghya
u + a   = wa        à   tuhu          + a          =    tuhwa
                                  sinusu       + an        =    sinuswan
u + i    = wi         à   sihku         + iriya     =    sihkuwiriya
                                  manguni   + akȇn    =    mangunyakȇn
o + a   = wa        à   mangilo    + a          =    mangilwa
                                  mangko    + angde  =    mangkwangde
ö + a   = wa        à   karȇngö    + an        =    karȇngwan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar